Thursday, July 9, 2009

Achmad Ubaidillah di wawancara di Kuala Lumpur

Out to spread the positive values


Saturday July 22, 2006
Out to spread positive values

KUALA LUMPUR: Four visionary young people will travel to six countries next month, with one goal in mind – to spread the word on diversity and pluralism.
The initiators of a social activist movement called Positive Movement, which is based in Jakarta and managed by 11 university students, are in Kuala Lumpur to promote two youth camps planned for next year. Students Ignatia Widhiharsanto, 24, Inayah Wahid, 23, Suseno Dwinanto, 24, and Achmad Ubaidillah, 26, started the movement a year ago in view of the rising social problems in their country.

YOUNG VISIONARIES: (From left) Inayah, Suseno, Ignatia and Achmad smiling as they talk to newsmen about their goal of spreading the word on diversity in Kuala Lumpur on Thursday.Inayah, daughter of former Indonesian president Abdurrahman “Gus Dur” Wahid, has seen the problems get worse over the years and thinks that the younger generation should be more involved.

“It is an urgent matter because if Indonesia still has the same problems in 15 years’ time, there won't be an Indonesia to speak of,” said Inayah, an Indonesian studies major at the University of Indonesia. “Our organisation is trying to spread positive values through community development projects such as last year's sahur (the early morning meal) programme, where we collected food for families waiting for their relatives in hospitals,” said Achmad.

The four university mates will fly to Bangkok, Siem Reap, Hanoi, Phnom Penh and Vientiane in the next four weeks to talk to youth organisations about two camps they are holding next year. A camp for Indonesian youths will be held in January next year, and in June youths from South-East Asia will congregate in Bali for a camp with a similar theme. The project, themed In Diversity We Unite, aims to persuade youths to be active in pluralism and peace, and to encourage unity among people of different cultural and social backgrounds.The star newspaper

Achmad Ubaidillah dan PPP

Achmad Ubaidillah Fokus Pendidikan

Bogor - Motivasi awal Achmad Ubaidillah terjun dalam proses pencalonan anggota legislatif DPRD Kota Bogor adalah karena ingin terlibat dalam proses pembuatan kebijakan di Kota Bogor. “Terus terang, sebagai kaum muda Kota Bogor, saya ingin sedikit memberikan pemikiran dan kontribusi tenaga dan pikiran saya untuk Kota Bogor. Saya ingin ikut serta melakukan perbaikan di segala bidang melalui DPRD Kota Bogor,” papar caleg Partai Persatuan Pembangunan (PPP) untuk daerah pemilihan 4 Kecamatan Bogor Barat bernomer urut 1 ini kepada Jurnal Bogor kemarin.
Menurut aktifis LSM ini, apabila dirinya terpilih menjadi anggota DPRD Kota Bogor, ia akan memfokuskan pengembangan potensi pendidikan terutama pengembangan pesantren. “Alokasi APBD untuk pendidikan perlu ditambah. Selain itu, pemberdayaan pesantren harus lebih diperhatikan,” ujarnya.
Achmad menambahkan, dirinya juga sangat peduli pada pengembangan potensi pemuda. “Saya berusaha hadir dan terlibat dalam kegiatan pelajar karena mereka mempunyai potensi strategis. Kreatifitas pemuda dan pelajar sangat besar dan idealisme mereka juga masih tinggi. Itu bisa dimanfaatkan untuk kepentingan bersama,” paparnya.
Saat ini Achmad tengah melakukan sosialisasi daerah pemilihannya. “Saya melakukan silaturahmi ke pesantren-pesantern yang memang merupakan komunitas awal saya,” pungkasnya. Jurnal bogor

Achmad Ubaidillah mendapat tamu 26 delegasi China

Mahasiswa Cina Sambangi Bogor


Bogor - Pertanyaan-pertanyaan cerdas dilontarkan beberapa mahasiswa delegasi Cina yang hadir di Ruang Tamu Balaikota, Jumat (22/05) kemarin. Mahasiswa Universitas Hongkong tersebut mendapat kesempatan untuk berdialog dengan Walikota Bogor yang diwakili oleh Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Bogor Aim Halim Permana.
Bagaimana tentang kehidupan bangsa Tionghoa di Indonesia terutama di Kota Bogor, adalah salah satu pertanyaan yang dilontarkan mereka. Mereka ingin mengetahui bagaimana kehidupan masyarakat Cina yang mengadu nasib di Indonesia. Mereka juga mempertanyakan tentang bahasa yang digunakan serta dialek bahasa daerah di Kota Bogor yang beraneka ragam. Bahkan, mereka juga bertanya soal banyaknya anak jalanan yang mereka lihat di pinggir-pinggir jalan Kota Bogor.
Menurut Aim, kondisi warga keturunan Tionghoa di Kota Bogor secara ekonomi cukup bagus dan tidak terjadi diskriminasi agama, mereka telah mendukung program pembangunan nasional dan pembangunan daerah. “Kami selalu bersanding bersaudara dengan berbagai agama dalam menjalankan kehidupan agama masing-masing,” ujar Aim.
Kunjungan ke 26 mahasiswa Universitas Hongkong yang dipimpin oleh Miss Ava tersebut difasilitasi oleh Rotary Club Semanggi, untuk lebih mengenal kehidupan masyarakat Indonesia yang kaya akan adat istiadat serta perbedaan agama. Untuk itu, selama dua hari ini mereka akan tinggal di Pondok Pesantren Al Falak, Pegentongan, Kelurahan Loji, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor.
“Selama dua hari, mereka akan melihat dan mengalami sendiri bagaimana kehidupan pesantren di Al Falak. Karena pengalaman itu akan didapat kalau mereka mengalaminya langsung,” ujar Koordinator Pusat Studi Pesantren Kota Bogor Achmad Ubaidilah kepada Jurnal Bogor di sela-sela acara penerimaan rombongan.
Selama menginap dua hari di Pondok Pesantren Al Falak, kata Ubaidillah, rombongan delegasi Cina akan melakukan berbagai kegiatan. “Besok (hari ini, red) mereka akan mengunjungi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Falak. Selain itu, mereka juga akan kami ajak berdialog dengan pelajar Ponpes Al Falak. Kami mengharapkan, dengan kunjungan ini mereka bisa menilai sendiri bagaimana kehidupan beragama di Indonesia,” tuturnya.

Irma Maghfirany. Jurnal bogor

Achmad Ubaidillah mendapat undangan konferensi intrenasional di UI

Diikuti 14 Negara Luar Negeri
PSP Ikuti Konferensi Internasional Peringati KAA

LOJI – KEHORMATAN kembali ditorehkan elemen sosial di Kota Bogor. Ya, Pusat Studi Pesantren (Center for Pesantren Studies) yang berpusat di Pondok Pesantren Al Falaq Kelurahan Loji Kecamatan Bogor Barat memperoleh kehormatan menghadiri Kegiatan Konferensi Internasional memperingati konferensi Asia-Afrika (KAA) di Universitas Indonesia Depok.

Selanjutnya, peserta akan berangkat ke negara-negara luar peserta Konfrensi KAA seperti Malaysia.

Acara ini dilaksanakan organisasi nasional yang memiliki reputasi internasional bernama Indonesian Conference on Religion and Peace pimpinan Prof Dr Musdah Mulia bekerja sama dengan beberapa organisasi masyarakat sipil di Asia dan Afrika untuk memperingati KAA.

Sedangkan tema yang diambil dalam acara itu yakni Diversity in Globalishend Society: The Challenge of Globalisation for Living Diversity, Contributions of Africa and Asia to a Sustainable World.

Konferensi Internasional ini diikuti peserta terbatas dari beberapa negara Asia-Afrika. Beberapa intelektual, aktivis dan penggiat demokrasi dari Indonesia, India, Malaysia, Denmark, Thailand, Cina, Lebanon, Papua New Guinee, Tunisia, Filipina, Prancis, Jepang, Vietnam, turut terlibat aktif dalam konferensi tersebut.

Direktur Pusat Studi Pesantren Achmad Ubaidillah mengatakan, dari kegiatan ini pihaknya bisa memperoleh wawasan dan pengalaman yang berbeda-beda dari berbagai intelektual, aktivis, dan penggiat demokrasi yang hadir.

“Banyak hal yang kita peroleh terutama mengenai fenomena umum seputar permasalahan, solusi, inovasi strategi dan rencana aksi yang perlu dilakukan oleh kalangan civil society di Asia Afrika dalam menyikapi keberagaman di suatu masyarakat, bangsa atau negara serta berupaya memberdayakan keberagaman di masyarakat menjadi hal positif bagi masyarakat luas,” kata Ubaidillah.

Terkait dengan permasalahan di atas, tambah dia, problem kemiskinan, kerusakan lingkungan, fundamentalisme agama yang mengabaikan nilai-nilai moralitas dan etika agama, konflik sosial yang bernuansa Sara, korupsi, diskriminasi gender serta berbagai problem kemanusiaan lainnya merupakan fenomena umum yang terjadi dewasa ini khususnya di era globalisasi.

“Makanya kita akan bekumpul kembali untuk menyamaikan persespi terutama mencari solusi bagi persoalan-persoalan tersebut. Dalam waktu dekat peserta akan diundang negara-negara luar negeri,” pungkasnya. (dei) Radar bogor

Achmad Ubaidillah dapat kunjungan aktifis perdamaian 6 negara

11-03-2009 15:29 WIB
Jadi Pusat Kajian Islam Enam Negara
Al Falaq Go Internasional

LOJI - Kota Bogor kembali menjadi tempat yang dituju dunia internasional dalam pengembangan dunia bidang pendidikan, terutama berbasis agama Islam. Sebanyak enam negara meliputi Vietnam, Taiwan, Australia, Pakistan, Afrika dan Singapura mengkuti program action for life goes to pesantren and dialogue toward a culture of peace yang diselengarakan oleh Pusat Studi Pesantren (center for Pesantren studies) Al Falaq di Kelurahan Loji Kecamatan Bogor Barat. Tak hanya dihadiri duta dari enam negara, kegiatan ini juga dihadiri oleh pelajar se-Kota Bogor, Lembaga swadaya masyarakat dan tokoh agama se-Kota Bogor.

Direktur Pusat Studi Pesantren Al Falaq Achmad Ubaidillah mengatakan, kegiatan ini dirancang oleh LSM internasional dan Inisiatif of Change bermarkas di London Inggris. “LSM ini tempat berkumpulnya tokoh-tokoh dunia untuk misi perdamaian. Kebetulan Al Falaq direspons oleh LSM ini,” kata Ubaidillah kepada Radar Bogor, kemarin.

Menurut dia, berbagai persoalan, terutama mengenai problem kerukunan umat di berbagai negara menjadi bahasan utama delegasi negara luar tersebut. “Berbagai hal termasuk bagaimana Indonesia bisa mengembangkan kerukunan umat beragama, terutama berbasis keagamaan yang mengikat,” jelasnya.

Namun, beber dia, yang menjadi pembahasan cukup penting dalam dialog ini adalah bagaimana menjelaskan kepada dunia internasional bahwa Islam adalah agama yang menganut perdamaian justru bukan kekerasan. “Ternyata setelah ada penjelasan dari kita (Pusat Studi Pesantren Al Falaq, red) wawasan mereka jadi terbuka,” imbuhnya.

Lebih jauh dia mengatakan, dijadikannya Al Falaq sebagai lokasi dialog dari berbagai negara luar diharapkan bisa menjadi pembuka pemikiran dunia barat menilai negara Islam khususnya Indonesia. “Kita ingin memberikan gambaran kalau Islam di Indonesia khususnya di Kota Bogor bisa hidup berdampingan,” ungkap Ubaidillah.

Tujuan pusat studi pesantren ini, kata dia, untuk mengemban komitmen penelitian interdisipliner yang berkaitan dengan pesantren, Islam dan demokrasi. “Kita ingin menunjukan kalau pondok pesantren bukan lembaga pencipta kekerasan hingga kini dunia barat mulai kembali terbuka,” pungkasnya. (dei)

(Redaksi) radar bogor

Friday, August 1, 2008

Fenomena Ayat-Ayat Cinta, Gagasan Islam, Budaya Pop, dan Ideologi Pasar

oleh: Achmad Ubaidillah, S.Hum

Luar Biasa. Inilah kata yang tepat untuk menggambarkan fenomena film Ayat-Ayat Cinta yang diadaptasi dari novel karya Habiburrahman El Shirazy. Film ini menjadi film Indonesia tersukses dan terlaris yang pernah diproduksi. Ayat-Ayat Cinta tak ubahnya sebuah mantra ampuh yang mampu menarik lebih dari 3,5 juta penonton. Bahkan film ini ditargetkan menembus angka 7 juta sebagaimana dinyatakan produser Ayat-Ayat Cinta, Manoj Punjabi di sejumlah media.

Kalangan ibu-ibu pengajian, anak muda berjilbab, eksekutif muda hingga Presiden RI, Wakil Presiden RI, sejumlah petinggi RI, para duta besar negara tetangga dan berbagai kalangan lainnya dengan latar belakang beragam adalah penonton Ayat-Ayat Cinta garapan Sutradara muda Indonesia, Hanung Bramantyo.

Film Ayat-Ayat Cinta yang diakui sang sutradara dalam blog pribadinya sebagai film dakwah memang memperlihatkan Nuansa Islam. Warna Islam muncul lewat ayat-ayat yang secara verbal kerap diucapkan Fahri dan unsur-unsur lainnya dalam film yang menunjukan warna Islam. Pada derajat tertentu – meminjam Andy Budiman – Ayat-Ayat Cinta menyajikan wajah Islam yang ramah melalui adegan ketidaksetujuan tokoh Fahri pada perlakuan kasar seorang pria Mesir pada turis Amerika di kereta listrik bawah tanah Kairo. Hal ini dimaksudkan untuk memberi dakwah, bahwa umat Islam harus hormat dan toleran kepada orang asing termasuk pemeluk agama lain.

Warna Islam juga tampak pada adegan saat Fahri menerangkan sejauh mana batasan perlakuan Suami yang dalam Islam diperbolehkan memukul Istri, jika Istri membangkang terhadap Suami. Adegan tersebut dan beberapa adegan lain memang berhasil memberikan citra positif tentang Islam yang toleran dan lembut. Namun di sisi lain, saking tolerannya, sampai-sampai hal-hal seperti khalwat (berdua-duaan dalam satu ruangan tertutup), berpandangan mata, bahkan saling menatap dalam waktu yang lama, diperlihatkan secara ekstrim. Adegan seperti Maria yang masuk ke kamar Fahri untuk memperbaiki komputer berdua, lalu beberapa kali terlihat adegan saling bertatapan baik antara Fahri dengan Maria, Noura, bahkan Aisha yang memakai cadar. Padahal adegan seperti itu tidak kita dapatkan dalam novel aslinya, mengingat Kang Abik adalah penulis Novel yang mempunyai misi untuk menjaga kemurnian akidah dan ajaran Islam dengan jalan yang lembut dan santun. (Dody Nur Andryan, 2008)

Kompromi-kompromi serta pengembangan cerita dalam film yang berbeda dengan Novel memang seringkali terjadi ketika novel atau buku difilmkan. Robinson Crusoe misalnya. Antara apa yang ditulis Daniel Defoe dengan versi filmnya terlihat berbeda. Begitu juga dengan film Gie yang diangkat dari Buku Catatan Harian Seorang Demonstran.

Kepiawaian dalam menafsirkan, mengembangkan bahkan meniadakan jalan cerita dalam novel Ayat-Ayat Cinta memperlihatkan kompromi Hanung terhadap tuntutan masyarakat dan pasar yang membuat film ini menjadi jauh dari nilai asli Novelnya. Namun sekali lagi hal seperti ini nampaknya sudah lazim dilakukan oleh banyak sutradara (Ibid, 2008).

Terkait hal tersebut, menarik kiranya mengetengahkan analisis Nur Hidayat (2008) tentang ketidaksetujuannya terhadap Hanung yang telah melakukan banyak perubahan karakter tokoh dan jalan cerita – meskipun seorang sutradara berhak melakukannya – Tapi, jika itu membuat film kehilangan roh, rasanya kok perubahan itu tidak tepat. Tapi, apa boleh buat. Inilah budaya pop kita. Film yang kehilangan roh juga sukses luar biasa, ujarnya (Blog Tempo Interaktif, 2008).

Dalam konteks film Ayat-Ayat Cinta dalam relasinya dengan budaya pop maka perlu digarisbawahi bahwa produk budaya pop selalu dihasilkan dari respon terhadap selera massa, yang “populer” pada saat itu. Budaya pop juga dapat menjadi bentuk ekspresi pada zaman itu. Seperti misalnya di Indonesia, produk budaya pop yang pernah mengalami “booming” di pasaran adalah sinetron bertemakan kehidupan remaja. Sampai-sampai novel-novel baru yang diterbitkan pun bertemakan kehidupan saat remaja. Demikian pula halnya dengan Film Ayat-Ayat Cinta yang jeli memanfaatkan peluang bisnis dari maraknya ghirah keberagamaan, khususnya di kalangan Islam. Diperkuat lagi oleh suatu realitas bahwa Indonesia, sebagai negara yang disadari atau tidak, menganut ideologi kapitalis, memang menjadi ruang yang nyaman bagi berkembangnya budaya pop dan segala bentuknya.
Jika ditelaah lebih lanjut, ini pun bukan hal baru mengingat dunia musik dan televisi telah lebih dahulu menikmati booming ini. Sebut saja album Tombo Ati yang sukses terjual dengan pencapaian komersial yang fantastik. Ditambah lagi dengan kesuksesan album religius grup musik Gigi dan Ungu yang semakin mengkonfirmasi besarnya sambutan publik atas musik bernuansa Islam. Sinetron Para Pencari Tuhan arahan Dedy Mizwar, juga menunjukkan hal serupa. Sinetron yang tayang di SCTV selama bulan puasa tahun lalu, mencapai rating tertinggi sekaligus melanjutkan sukses sebelumnya yang diraih lewat Kiamat Sudah Dekat (Andy Budiman, 2008)

Sebagai anak kandung industrialisasi, budaya pop yang terepresentasi melalui berbagai macam produk Industri seperti film, sinetron, musik dan sebagainya memang sering disertai pengomoditasan dan pengendalian di balik kuasa modal. Artinya, Ayat-Ayat Cinta yang dikemas dalam format sinema rentan terjebak pada arus pendangkalan yang disutradarai agen-agen budaya pop yang sarat muatan ideologi pasar.

Memang tidak dapat disangsikan bahwa film Ayat-Ayat Cinta merupakan manifestasi budaya pop yang muatannya turut ditentukan oleh industri-industri, salah satunya yakni industri Film. Industrialisasi inilah yang menjadi inti kebudayaan pop yang diamalkan oleh masyarakat modern (Rofiq`s Weblog, 2008). Hal itu tampak pada pelaku pasar yang jeli memanfaatkan peluang bisnis dari maraknya ghirah keberagamaan, khususnya di kalangan Islam sebagaimana ditulis oleh Andy Budiman (2008) dalam Film, Pasar dan Tabu. Di tambah lagi dengan pemilihan sejumlah artis populer yang cantik dan tampan sebagai tokoh-tokoh dalam film semakin menegaskan besarnya unsur-unsur budaya pop dalam film Ayat-Ayat Cinta. Munculnya eksploitasi atas hal semacam itu guna mendatangkan keuntungan pada akhirnya menjadi biasa kita saksikan.

Meskipun demikian, penulis ingin mengemukakan beberapa hal. Pertama, sebagai medium untuk mengekspresikan diri, budaya pop terbukti berhasil membuat hasil kreativitas manusia dapat dinikmati oleh semua golongan tidak terkecuali film Ayat-Ayat Cinta yang telah membawa pesan moral dan agama. Kedua, film Ayat-Ayat Cinta telah memberi warna tersendiri bagi perkembangan budaya pop Indonesia khususnya di tengah menjamurnya film-film nasional yang bertema horor dan hedonisme yang tidak memberikan arti apapun bagi perkembangan masyarakat. Ketiga, dengan memanfaatkan instrumen budaya pop, film Ayat-Ayat Cinta bisa menjadi budaya tandingan terhadap hegemoni kapitalisme global yang berupaya menyeragamkan selera masyarakat dunia dengan ikon-ikon budaya barat. Terakhir, penulis merasa salut atas proses kreatif yang telah dilakukan Hanung Bramantyo dan semoga menjadi inspirasi bagi sineas-sineas baru di Indonesia untuk membuat karya yang lebih baik dari Hanung Bramantyo dan sineas-sineas pendahulu lainnya. Yang tidak kalah penting adalah memiliki komitmen untuk memberikan penyadaran dan pencerahan bagi masyarakat. Semoga!!!

Bogornews--- Rabu, 02-April-2008, 14:53:10